Saturday, August 14, 2010

Postingan Longweekend 2 : Pilihan

Menyambung postingan kemarin tentang fear of loss, attachment, dan teman-temannya yang oleh Yoda disebut sebagai awal dari hal-hal buruk, postingan malam ini saya tidak akan bicara banyak. Semua terangkum dalam artikel Dyske Suematsu tentang The Art of Giving Up di sini.

Dalam The Art of Giving Up, Dyske tidak membahas soal menyerah dan berhenti. Dyske bicara tentang detachment, usaha untuk melepaskan kemelekatan untuk lebih menikmati hidup. Menurutnya, kenikmatan akan apapun membutuhkan suatu jarak tertentu. Detachment ini yang biasanya kita sebut dengan mengikhlaskan.

Tapi apakah ikhlas ini selalu baik? Tidak juga. Menurut Dyske, ikhlas memang akan membuat kita lebih menikmati hidup, tapi untuk mencapai hal-hal yang kita ingin capai, kita memerlukan kemelekatan ini. Melekat pada apa yang kita kejar. Rasa takut kehilangan atas apa yang kita kejar akan menjadi bensin untuk membakar semangat kita dalam meraihnya. Dyske merangkum pada paragraf terakhir:

If my observations are correct, detachment allows us to enjoy life in its uncontaminated form, but attachment allows us to achieve better chances of survival as a species. It appears that the forces of evolution are acting against our desire to enjoy life. Ironic, it might seem, but life is all about the interaction of two opposing forces.

Jadi intinya, kembali ke masalah pilihan. Ada situasi dimana ikhlas merupakan pilihan terbaik, dan apa pula yang mengharuskan kita untuk melekat pada sesuatu. Tidak semua hal harus kita ikhlaskan, dan tidak semua hal juga harus kita perjuangkan.

Seperti kata Yoda, intinya adalah membuat pilihan. Pilihan yang tepat tidak berasal dari analisis atau kata hati saja, tapi juga dikombinasikan dengan pengalaman. Ya, pengalaman trial and error- tidak terbatas pada trial and error yang kita lakukan saja tapi juga orang lain- ini yang mengajarkan kita untuk mengambil pilihan yang terbaik. Di sinilah, motivasi dan prinsip yang kita miliki berperan penting dalam mengambil pilihan. Benturkan selalu pilihan yang ada dengan motivasi dan prinsip. Motivasi adalah tujuan yang ingin kita capai, sedangkan prinsip adalah rambu-rambu yang membimbing kita dalam berjalan menuju tujuan kita itu. Jika tidak memungkinkan, cara berjalan masih dapat berubah sesuai dengan perkembangan yang ada, namun jangan kompromi dengan tujuan yang sudah kita tetapkan sebelumnya, karena pilihan akan selalu muncul, jalan lain masih akan terbuka.

Tadi malam, di tengah kegalauan saya untuk memilih meneruskan kemelekatan atau mengikhlaskan, saya sempat menulis ini di twitter untuk teman saya yang sedang menghadapi kegalauan yang sama:

Sometimes, we don't have to be Edison, who had to try for 1000 times. We learn from every mistake we've made. Including our limit.

Saya cukup wow dengan kata-kata yang saya buat sendiri, hehehe.

Jadi, lepas atau terus? Pertanyaan itu selalu terngiang di kepala saya setiap kali trial yang saya lakukan menghasilkan error untuk motivasi yang sama.
Tadi malam, saya mempelajari batas saya.
Dan menurut saya, di sinilah garisnya. Garis untuk menentukan untuk melepaskan kemelekatan atau terus berjuang. Karena sekali lagi, tidak semua harus kita ikhlaskan, dan tidak semua harus kita perjuangkan. Akhir kata, saya ingin mengatakan:

We never can do everything, but we always can do something. Choose wisely. Make sure it's worth the effort.


PS: As Dyske wrote, "Giving up, in this sense, isn’t the same as quitting.", No, I'm not quitting. No one will ever know how to quit on something they used to love. At this moment, I'm just trying to give up. And this, is also just one of my trial and error within my whole journey, we'll see the result from this one :)



2 komentar:

batari saraswati said...

wah gue harus belajar balancing the attachment and detachment nih

andibtw.blogspot.com said...

Tulisan yang meng-inspirasi dan bagus dian. Ternyata kamu ketularan "teman satu kost" dewi dee (cuma dalam genre yg berbeda).

Kemelekatan (attachment) -dalam bahasa saya adalah rasa memiliki/cinta/sayang/Harapan - dan Ke-ikhlasan (detachment) menurut saya keduanya ditempatkan sesuai urutan. Dimana detachment ditempatkan diakhir setelah setiap usaha dilakukan untuk meningkatkan attachment. Apapun hasil dari usaha itu-yg diistilahkan ikhtiar- pada akhirnya bermuara kepada detachment itu.

Btw, saya sangat menikmati tulisan yg membuat saya merenung dan berpikir kembali atas ikhtiar2 yg sdg dilakukan.

Tetap menulis dan mengupdate blog ya.